Kue Apam, Warisan Kuliner Kesultanan Lingga-Riau yang Sarat Makna

- 20 Maret 2024, 17:30 WIB
Kue Apam.
Kue Apam. /Istimewa

LINGGA PIKIRAN RAKYAT - Dari masa Kesultanaan Lingga-Riau hingga kini, kue apam telah menjadi salah satu kue-mueh tradisional yang melekat dalam kehidupan masyarakat Lingga. Tak hanya sekadar hidangan, kue apam juga kerap dihidangkan dalam berbagai ritual dan memiliki makna yang mendalam.

Kue apam dikenal sebagai sarapan pagi yang lezat, biasanya disantap bersama parutan kelapa. Namun, keberadaannya juga tak terpisahkan dari berbagai acara keagamaan dan tradisi, seperti Manaqib Syaikh Samman, Isra’ Mi’raj, kenduri arwah, dan lain-lain. Di masjid, surau, maupun rumah, kue apam hadir sebagai simbol persatuan dan penguat silaturahmi.

Menurut Kitab Pengetahuan Bahasa karya Raja Ali Haji, kue apam dibuat dari tepung gandum atau jenis tepung lain yang difermentasikan dengan air nira dan ragi. Resep tradisional ini menunjukkan bahwa kue apam juga merupakan simbol kesuburan, kesucian, dan keharmonisan.

Baca Juga: Tiga Kuliner Enak di Kota Tanjung Pinang yang Wajib Dicoba

Namun, di era modern ini, pembuatan kue apam mengalami sedikit perubahan. Sulitnya mendapatkan air nira membuat para pembuat kue apam kini lebih memilih menggunakan ibu roti atau pengembang roti sebagai alternatif.

Bahan-bahan membuat kue apam:
- Tepung beras dan tepung gandum
- Ibu roti
- Air putih
- Gula

Cara membuat:
1. Campurkan semua bahan menjadi satu adonan.
2. Tuang adonan ke dalam cetakan dan biarkan mengembang.
3. Setelah mengembang, kukus adonan hingga matang.

Baca Juga: Sajian Imlek Menggugah Selera: Kuliner Istimewa dengan Daging Babi

Kue apam tak hanya sekadar hidangan, namun juga menjadi bagian dari warisan budaya yang kaya akan makna. Keberadaannya hingga kini menjadi bukti kelestarian tradisi dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Lingga.

Editor: Ruzi Wiranata


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah