Menelusuri Jejak Sejarah Sultanah Embung Fatimah di Pulau Penyengat

- 29 Maret 2024, 21:39 WIB
Makam Embung Fatimah erletak di Bukit Bahjah, tidak jauh dari jalan menuju Kompleks Makam Raja Haji Fi Sabilillah
Makam Embung Fatimah erletak di Bukit Bahjah, tidak jauh dari jalan menuju Kompleks Makam Raja Haji Fi Sabilillah /Disbud Kepri/

LINGGA PIKIRAN RAKYAT - Di tengah hiruk pikuk modernisasi, Pulau Penyengat di Kepulauan Riau menyimpan warisan sejarah yang tak ternilai. Pulau ini merupakan bekas pusat Kesultanan Riau-Lingga, dan jejak kejayaannya masih dapat dilihat melalui berbagai cagar budaya yang tersebar di pulau ini.

Cagar budaya adalah warisan budaya yang dilindungi oleh undang-undang, karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Upaya pelestarian cagar budaya menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat, agar peninggalan-peninggalan bersejarah ini dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu cagar budaya yang menarik untuk ditelusuri adalah Kompleks Makam Embung Fatimah. Beliau adalah Sultanah Lingga Riau yang memerintah dari tahun 1883 hingga 1885. Makamnya terletak di Bukit Bahjah, tidak jauh dari jalan menuju Kompleks Makam Raja Haji Fi Sabilillah.

Kompleks Makam Embung Fatimah terdiri dari 21 makam yang dibatasi dengan pagar bertembok. Namun, nisan makam Embung Fatimah tidak dapat dikenali dengan jelas, karena tidak ada penanda atau penamaan pada nisan-nisan yang ada.

Baca Juga: 11 Cagar Budaya Baru di Karimun Warisan Sejarah untuk Generasi Masa Depan

Upaya pelestarian cagar budaya di Pulau Penyengat terus dilakukan oleh Dinas Kebudayaan. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah semakin sempitnya kawasan cagar budaya akibat perkembangan penduduk dan kebutuhan perumahan. Hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan kerusakan atau bahkan musnahnya cagar budaya.

Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk menjaga dan melestarikan cagar budaya di Pulau Penyengat. Upaya ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:

  • Melakukan inventarisasi dan pendataan cagar budaya
  • Melakukan pemeliharaan dan pemugaran cagar budaya
  • Melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya cagar budaya
  • Mengembangkan wisata budaya yang berbasis pada cagar budaya

Dengan upaya pelestarian yang berkelanjutan, cagar budaya di Pulau Penyengat dapat menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi bagi generasi mendatang.

Baca Juga: Menjelajah Pesona Tanjung Buton: Gerbang Kuliner dan Sejarah di Lingga

Editor: Akhlil


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini