Pesona Tradisi Menganyam Tikar Pandan: Warisan Budaya Serasan yang Tak Ternilai

- 18 April 2024, 10:05 WIB
Tikar pandan kerajinan tangan di Kabupaten Natuna
Tikar pandan kerajinan tangan di Kabupaten Natuna /

LINGGA PIKIRAN RAKYAT - Di balik hamparan pantai dan gugusan pulau di Natuna, tersimpan kekayaan budaya yang lestari. Di Kecamatan Serasan, tradisi menganyam tikar pandan telah diwariskan turun-temurun, menjadi identitas dan sumber ekonomi bagi masyarakat setempat.

Bahan Utama dari Alam:

Pandanus tectorius, atau pandan duri, menjadi bahan utama dalam pembuatan tikar. Tumbuhan ini melimpah di Serasan, sehingga masyarakat memanfaatkannya sebagai bahan baku utama. Proses pembuatan tikar memakan waktu, karena hampir seluruh prosesnya masih tradisional.

Langkah-langkah Pembuatan Tikar Pandan:

  1. Pengambilan dan Persiapan Pandan:

    • Pandan dipanen dan dikumpulkan.
    • Duri-duri pandan dibuang dengan menggunakan benang nilon atau senar pancing.
    • Pandan dipotong dengan alat potong agar seragam lebarnya.
    • Pandan dijemur hingga kering, tergantung pada cuaca (2-3 hari pada cuaca cerah).
  2. Maut:

    • Maut adalah proses meluruskan dan menghaluskan pandan kering dengan bambu.
    • Setelah maut, pandan siap dianyam dengan warna alami.
  3. Pewarnaan (Untuk Tikar Berwarna):

    • Pandan direbus dengan air yang dicampur pewarna (alami atau buatan).
    • Pewarna alami: Kunyit (kuning), pandan (hijau), tinta cumi/sotong (hitam).
    • Pencampuran warna menghasilkan warna lain.
    • Proses pewarnaan memakan waktu 30-60 menit.
    • Pandan dijemur kembali hingga kering.
  4. Penganyaman:

    • Pandan yang telah diproses dianyam dengan pola dan motif tertentu.
    • Ketelitian dan keterampilan diperlukan untuk menghasilkan tikar yang berkualitas.

Baca Juga: Pulau Serasan: Surga Tersembunyi di Natuna dengan 7 Destinasi Wisata Memukau

Halaman:

Editor: Akhlil


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah