Legenda Tanjung Bemban Batam, Saksi Bisu Perburuan Sang Nila Utama dan Kisah Pilu Sang Anak yang Menjadi Batu

- 4 April 2024, 15:35 WIB
Gerbang masuk Tanjung Bemban
Gerbang masuk Tanjung Bemban /jotravelguide

LINGGA PIKIRAN RAKYAT - Tanjung Bemban, sebuah nama yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan di pulau Batam, Kepulauan Riau, menyimpan kisah sejarah dan legenda yang kaya.

Menurut catatan Sejarah Melayu, di Tanjung Bemban inilah Sang Nila Utama, atau dikenal juga sebagai Sri Tri Buana, pendiri Kerajaan Melayu Singapura, pernah berburu pelanduk. Namun, keunikan Tanjung Bemban tidak hanya terhenti pada sejarah pemburuan tersebut.

Berdasarkan tuturan lisan, asal-usul Kampung Tanjung Bemban tidak bisa dipisahkan dari legenda yang dituturkan oleh masyarakat Melayu yang telah lama berdiam di pulau Batam.

Baca Juga: Warisan Leluhur: Menelusuri Jejak Sejarah Lewat Senjata Tradisional Kepulauan Riau

Diceritakan bahwa dahulu kala, Tanjung Bemban hanya dihuni oleh beberapa penduduk. Di antara mereka, terdapat sepasang suami istri yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah dewasa. Anak itu kemudian merantau dan berhasil menjadi orang besar.

Sang ibu, yang sangat berharap anaknya segera kembali dari perantauan, setiap hari duduk di sebuah batu di tepi pantai, menanti kedatangan perahu anaknya. Penantiannya tidak sia-sia, suatu hari, perahu sang anak tiba.

Namun, naas, sang anak ternyata tidak mengakui ibunya. Marah dan kecewa, sang ibu menyumpahi sang anak sehingga tulangnya berubah menjadi sibiran. Seketika itu juga, sang anak beserta perahunya berubah menjadi batu, yang kemudian dikenal dengan sebutan "Malang orang", berlokasi tepat di tepi pantai antara Jabi dan Tanjung Buton.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Sejarah Sultanah Embung Fatimah di Pulau Penyengat

Sejak peristiwa itu, nama Tanjung Bemban menjadi sebutan yang ramai di kalangan orang-orang di pesisir Timur pulau Batam. Pasca kemerdekaan Indonesia, banyak warga Tanjung Bemban yang hijrah ke kampung yang berdekatan, yakni Batu Besar. Di sana, mereka membaur dengan warga yang lebih dulu menetap dan mengandalkan hidup dari berkebun kelapa.

Halaman:

Editor: Ruzi Wiranata


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini