Simak Ulasan Mengapa Tahun Kabisat Jatuh di Bulan Februari, Bukan Desember

- 27 Februari 2024, 11:45 WIB
Sejarah Bulan Februari
Sejarah Bulan Februari /Pixabay/

LINGGA PIKIRAN RAKYAT - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Februari, bulan terpendek dalam setahun, dipilih untuk menjadi tempat "hari ekstra" di tahun kabisat? Mengapa bukan bulan Desember, yang menandakan akhir tahun?

Sejarah Kalender dan Bulan Februari

Bulan Februari memiliki sejarah panjang dan rumit. Pada masa Romawi kuno, kalender hanya memiliki 10 bulan, dimulai dari Maret dan berakhir di Desember.

Raja Numa Pompilius kemudian menambahkan dua bulan baru, Januari dan Februari, ke akhir tahun. Februari, yang berarti "pembersihan", menjadi bulan terakhir dalam kalender Romawi.

Menambahkan Hari Kabisat

Sekitar 700 SM, Julius Caesar menyadari bahwa kalender Romawi tidak sinkron dengan musim. Dia memutuskan untuk menambahkan satu hari ekstra ke Februari setiap empat tahun untuk menjaga kalender tetap selaras dengan siklus matahari.

Baca Juga: Misteri Tanggal 29 Februari: Mengapa Hanya Muncul 4 Tahun Sekali?

Alasan Memilih Februari

Ada beberapa alasan mengapa Februari dipilih untuk menjadi bulan kabisat:

  • Tradisi: Februari sudah menjadi bulan terakhir dalam kalender Romawi.
  • Keseimbangan: Menambahkan hari di tengah tahun akan mengganggu struktur kalender yang sudah ada.
  • Musim: Menambahkan hari di Februari memiliki dampak minimal pada perhitungan musim.

Kesimpulan:

Meskipun Februari adalah bulan terpendek, ia memiliki sejarah panjang dan peran penting dalam sistem tahun kabisat. Memilih Februari sebagai bulan kabisat membantu menjaga kalender tetap sinkron dengan musim dan siklus matahari.

 

Editor: Akhlil


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah

x